Penulis: GedePrama
Entah benar entah tidak, suatu hari di sebuah pameran mobil bergengsi, tiga insinyur dari Jerman, Jepang dan Indonesia berdebat memamerkan hasil karya mereka masing-masing. Insinyur Jerman mengeluarkan remote, dan setelah ditekan mesin mobil langsung hidup. Insinyur Jepang lain lagi, begitu remote ditekan tidak hanya mesin yang hidup, tetapi pintu supir langsung terbuka. Dan bukan Indonesia namanya kalau tidak bikin heboh untuk urusan yang aneh-aneh. Insinyur Indonesia maju menuju mobilnya dengan penuh keyakinan. “Kalau Anda memakai remote, mobil Indonesia tidak memakainya, cukup dengan perintah melalui suara manusia, mobil langsung berangkat dan dijamin sampai di tempat tujuan”, tuturnya meyakinkan !. Tentu saja insinyur Jepang dan Jerman terbelalak keheranan, sambil bertanya : “bagaimana bentuk perintah terhadap mobil tadi?”. Sekali lagi, dengan penuh keyakinan melayu tadi berucap: “Parjo antar gua ke hotel Borobudur !”, dan mobilpun langsung melaju ke hotel Borobudur.
Nah, untuk urusan lawak, Indonesia memang terkenal amat cerdas. Terutama setelah negara ini dipimpin oleh presiden yang bercita-cita jadi pelawak. Dan mengkampanyekan lawak ke banyak sekali negara dalam jangka waktu amat pendek. Sampai-sampai lembaga rekor pimpinan sahabat saya Jaya Suprana, memasukkan kampanye ke luar negeri model terakhir sebagai salah satu rekor – entah ia lagi melawak, ngeledek, atau malah serius. Yang jelas, di setiap pojok ruangan publik kita, hanya menyisakan satu pojok cerdas: lawak. Di luar itu, entahlah bagaimana Anda menyebutnya.
Presiden tidak berhenti-berhenti melempar isu menghebohkan – dari soal komunisme, menteri KKN, dan masih banyak lagi yang lain. Skandal KKN yang dari dulu amat menjijikkan, melalui kasus korupsi Bulog senilai 35 milyard dan melibatkan tukang pijit presiden terulang lagi. Gubernur bank Indonesia “berseteru” dengan presiden secara amat jelas di ruang publik kita. Sjahril Sabirin bersama korps BI-nya mengemukakan bahwa dirinya ditekan presiden untuk mundur. Sebaliknya di kubu seberang, tentu saja mereka menolak tuduhan tadi. Sementara banyak kasus korupsi belum ketahuan ujung pangkalnya, keluar lagi surat SP3 – sebuah harian memelesetkannya dengan “surat perintah pura-pura periksa” – terhadap Texmaco. Di pucuk piramida bangsa ini, tidak malu-malunya orang berebut kursi di tengah lautan krisis yang multi dimensi ini.
Digabung menjadi satu, bila diibaratkan dengan pohon, pohon Indonesia memang mau roboh. Sebab utamanya, apa lagi kalau bukan karena elit politik kita semuanya mau menjadi puncuk pohon. Padahal, sebagaimana pohon sebenarnya, hanya dengan puncuk, pohon manapun pasti tidak bisa berdiri tegak. Dan nasib pohon manapun, lebih banyak ditentukan oleh batang dan khususnya akar. Sebab, akar disamping mencari makan untuk pihak lain, ia rela tidak kelihatan. Pertanyaan saya, punyakah kita elit politik, ekonom, anggota DPR, atau tokoh lainnya yang hidup dalam prinsip akar ?.
Karena hidup sebagai gelandangan intelektual, saya kerap hadir di banyak seminar, bertemu dengan banyak cerdik cendekia. Penemuan saya, semakin cerdas dan cendekia orang-orang kita, semakin mungkin ia dilanda oleh ketidakpuasan intelektual. Bahkan, tidak sedikit yang sudah mulai frustrasi. Mungkin – sekali lagi mungkin – orang paling bahagia di negeri ini sekarang adalah orang-orang yang tidak mengerti dan cuek terhadap persoalan. Dan kalau Jaya Suprana menempatkan kunjungan presiden ke luar negeri sebagai rekor, lembaga rating internasioanl menyebut Indonesia sebagai salah satu negara paling korup, saya ingin mendaftarkan Indonesia sebagai salah satu (atau malah satu-satunya ? ) negara yang menjadi surganya orang bodoh dan tidak perduli.
Di tengah “surga” tadi, mesin birokrasi menjadi alat produksi pembodohan yang amat menentukan. Buktinya, ada banyak orang yang amat cerdas ketika di luar birokrasi, namun begitu berada di dalam mesin birokrasi, mereka tampil seperti orang kebingungan. Gus Dur, Kwik Kian Gie, Rizal Ramli, Anwar Nasution hanyalah sebagian kecil orang yang kecerdasan dan kekritisannya menurun tajam, ketika sudah duduk di dalam. Saya paham, berbicara dan melaksanakan memang dua hal yang amat berbeda. Akan tetapi, kenapa kekritisan mereka pudar demikian cepat ?
Nah, Anda lihat dan rasakan sendiri. Sayapun sudah kejangkitan penyakit frustrasi intelektual. Sebuah sinyal kuat bagi berlakunya prinsip “bodoh dan tidak perduli itu indah”. Lebih-lebih kalau ingat dengan prinsip Gus Dur yang amat terkenal : “gitu aja koq repot”. Maka dipimpinlah kita menuju sebuah lorong ketidakperdulian yang menakutkan. Atau, jangan-jangan Anda dan sayapun akan dibuat bodoh bila duduk di dalam birokrasi. Padahal, dari birokrasi itulah nasib bangsa ini ditentukan.
Di tengah-tengah lingkungan seperti ini, Anda bebas menyumbangkan energi Anda untuk bangsa ini. Namun, yang jelas melawaklah merupakan kegiatan yang paling memperkaya kehidupan intelektual. Lebih-lebih mentertawakan diri kita sendiri. Ia menjadi sebuah hiburan dalam himpitan. Persis seperti cerita insinyur Indonesia di awal, yang bangga akan humornya – kendati kecut nyali intelektualitasnya di tengah pesatnya intelektualitas bangsa lain – kitapun demikian. Di tengah masyarakat “bodoh itu indah”, marilah kita melawak sebanyak-banyaknya. Berdoalah yang banyak, mudah-mudahan pelawak membawa kita ke arah kemajuan.


